
Chapter 1: Hari Pertama, Tatapan Pertama
Hari pertama di SMP Angkasa menjadi awal baru bagi Raka. Dengan seragam yang masih terlihat kaku dan tas selempang yang penuh buku, ia melangkah pelan memasuki gerbang sekolah. Raka adalah siswa pindahan, dan ini pertama kalinya ia berada di sekolah besar seperti ini. Ia selalu merasa dirinya biasa saja — tidak istimewa, tidak mencolok, hanya seorang anak laki-laki pendiam yang lebih suka menyendiri.
Sementara itu, di lapangan sekolah, Nara berdiri bersama teman-temannya. Suara tawanya terdengar di tengah kerumunan, menyebarkan aura ceria yang sulit diabaikan. Gadis dengan rambut sebahu dan pita kecil di sampingnya itu adalah pusat perhatian di mana pun ia berada. Namun, ia tidak sombong; justru, kehangatannya membuat orang-orang nyaman.
Di sela-sela waktu istirahat, Raka memilih pergi ke perpustakaan. Tempat itu sepi, hanya diisi oleh beberapa siswa yang sibuk membaca. Raka menyukai suasana seperti ini, jauh dari keramaian. Ia berjalan menuju rak buku bagian sastra, mencari novel yang bisa menemani kesendiriannya.
Tanpa disangka, di ujung rak itu, ia melihat Nara. Gadis itu tampak serius memilih buku, jari-jarinya menyusuri deretan judul. Raka merasa jantungnya berdegup lebih cepat. Ia tidak tahu kenapa, tapi ada sesuatu tentang Nara yang menarik perhatiannya. Tatapan pertamanya pada Nara adalah awal dari segalanya.
"Hai, kamu anak baru, ya?" tanya Nara tiba-tiba, membuat Raka terkejut. Ia bahkan tidak sadar bahwa Nara menyadari kehadirannya.
"Eh, iya... aku Raka," jawabnya gugup sambil menghindari tatapan langsung.
Nara tersenyum. "Aku Nara. Suka baca buku juga?"
Raka hanya mengangguk pelan. Ia merasa lidahnya kelu. Tapi, senyum Nara membuat suasana menjadi lebih nyaman. Mereka berbincang sebentar sebelum Nara kembali ke kelas. Percakapan singkat itu cukup membuat hari Raka terasa berbeda. Untuk pertama kalinya, ia merasa diperhatikan.
Namun, ada satu hal yang mengganjal di hati Raka: bagaimana cara mendekati seseorang seperti Nara? Gadis itu terlalu jauh dari jangkauannya — ceria, populer, dan dikelilingi teman-teman. Sedangkan ia hanyalah anak baru yang pemalu. Tapi satu hal pasti, tatapan pertama itu sudah menanamkan sesuatu dalam hatinya.
Chapter 2: Kenangan di Bawah Pohon

Hari itu, langit cerah, dan angin bertiup sepoi-sepoi. Raka duduk di taman sekolah, mencoba menggambar di buku sketsanya. Tempat itu cukup sepi, hanya suara daun yang berguguran menemani. Ia suka suasana ini; tenang dan jauh dari keramaian.
Namun, ketenangan itu pecah ketika ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Ia mengangkat kepala dan melihat Nara. Gadis itu membawa buku catatan, tampak seperti sedang mencari tempat untuk duduk.
"Hai, Raka," sapa Nara dengan senyuman. "Kamu sering duduk di sini, ya?"
Raka bingung bagaimana harus menjawab. "Iya, aku suka tempat ini. Tenang."
Nara mengangguk dan duduk di sampingnya. "Aku juga suka tempat seperti ini. Kadang, rasanya lelah terus-terusan di tengah keramaian."
Mereka terdiam sejenak. Raka merasa canggung, tapi Nara terlihat santai. Matanya tertuju pada buku sketsa di tangan Raka.
"Kamu menggambar? Boleh lihat?" tanya Nara antusias.
Raka ragu-ragu sejenak, tetapi akhirnya menyerahkan bukunya. Nara membuka halaman demi halaman, terpesona dengan gambar-gambar Raka. Ada pemandangan, wajah-wajah imajinasi, hingga gambar seekor kucing yang tampak hidup.
"Wow, kamu jago banget, Raka!" puji Nara. "Kenapa nggak coba ikut lomba menggambar di sekolah?"
Raka tersenyum kecil. "Aku nggak terlalu percaya diri."
"Ah, jangan gitu dong. Aku yakin kamu bisa," kata Nara penuh semangat. "Kalau kamu butuh dukungan, aku pasti bantu."
Mendengar itu, Raka merasa ada kehangatan di hatinya. Percakapan sederhana itu menjadi awal dari kebiasaan baru mereka. Sejak hari itu, Nara sering menemani Raka di bawah pohon. Mereka berbincang tentang banyak hal — mulai dari buku favorit hingga mimpi-mimpi kecil yang ingin diraih.
Dan di bawah pohon itu, perlahan tapi pasti, Raka mulai merasa lebih dekat dengan Nara. Ada rasa yang tumbuh, seperti benih yang pelan-pelan berkembang menjadi bunga.
Chapter 3: Surat Tanpa Nama

Hari-hari berikutnya, Raka tidak bisa berhenti memikirkan Nara. Ia merasa senang setiap kali mereka berbicara, tetapi rasa minder masih menghantuinya. Nara begitu ceria dan penuh percaya diri, sedangkan ia hanyalah seorang anak laki-laki yang lebih suka berada di belakang layar.
Suatu malam, di meja belajarnya, Raka menemukan cara untuk mengungkapkan perasaannya tanpa harus berhadapan langsung. Ia menulis sebuah surat.
"Untuk seseorang yang selalu membuat hariku lebih cerah,
Aku ingin mengucapkan terima kasih karena telah menjadi bagian dari hari-hariku. Senyumanmu adalah alasan aku merasa dunia ini lebih indah. Aku tidak tahu bagaimana caranya mengatakan ini secara langsung, jadi aku menulis surat ini. Aku berharap, suatu hari nanti, aku punya keberanian untuk berbicara dari hati ke hati."
Ia menandatangani surat itu dengan nama samaran: Langit Jingga.
Keesokan harinya, ia menyelinap ke kelas Nara saat tidak ada orang. Ia menyelipkan surat itu ke dalam laci meja Nara. Raka merasa gugup tapi juga lega. Setidaknya, perasaannya telah tersampaikan, meski ia tahu Nara mungkin tidak akan pernah tahu siapa pengirimnya.
Saat jam istirahat, Nara menemukan surat itu. Ia membaca perlahan, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. "Siapa ya, Langit Jingga ini?" gumamnya pelan.
Teman-teman Nara penasaran, tetapi Nara memutuskan untuk menyimpan surat itu sebagai rahasia kecilnya. Di sisi lain, Raka diam-diam mengamati dari kejauhan. Ia senang melihat Nara tersenyum saat membaca suratnya.
Namun, ia juga tahu bahwa ini baru awal dari kisah panjang yang penuh harapan dan ketidakpastian.
Chapter 4: Teka-Teki di Papan Tulis

Hari berikutnya di kelas, suasana terasa berbeda bagi Raka. Ia masih memikirkan bagaimana Nara bereaksi terhadap surat itu. Namun, ia tidak menyangka bahwa keesokan harinya, ada sesuatu yang akan mengejutkannya.
Ketika Raka masuk ke kelas sebelum jam pelajaran dimulai, ia melihat ada sebuah tulisan di papan tulis. Tulisan itu berbunyi:
"Untuk Langit Jingga, siapa pun kamu, aku ingin tahu lebih banyak tentangmu."
Raka tercekat. Ia yakin tulisan itu adalah balasan dari Nara, meskipun tidak ada nama yang disebutkan. Teman-temannya yang lain mulai bergosip tentang tulisan itu, mencoba menebak siapa yang menulis dan siapa yang dimaksud. Namun, hanya Raka yang tahu arti sesungguhnya.
Saat jam istirahat, Nara tampak sibuk dengan buku catatannya. Raka, meskipun merasa gugup, memberanikan diri untuk mendekatinya. "Hai, kamu sudah baca tulisan di papan tulis tadi?" tanyanya mencoba terdengar santai.
Nara tersenyum kecil. "Iya, menarik ya? Ada seseorang yang berani menulis hal seperti itu di papan tulis."
"Menurut kamu siapa yang menulis?" Raka bertanya sambil menyembunyikan rasa gugupnya.
"Entahlah," jawab Nara sambil tersenyum misterius. "Tapi aku rasa, dia orang yang tulus. Aku harap dia mau menunjukkan dirinya suatu hari nanti."
Percakapan itu membuat Raka semakin bingung sekaligus penasaran. Apakah Nara tahu bahwa ia adalah Langit Jingga? Ataukah ini hanya kebetulan? Namun satu hal yang ia tahu, teka-teki di papan tulis itu menjadi penghubung baru di antara mereka.
Chapter 5: Langit Sore yang Sama

Hari itu, langit sore terlihat indah dengan semburat jingga di ufuk barat. Setelah jam sekolah selesai, Raka memutuskan untuk berjalan-jalan ke taman kota. Ia butuh waktu untuk berpikir, terutama setelah kejadian di papan tulis pagi tadi. Namun, ia tidak menyangka akan bertemu dengan Nara di tempat itu.
Nara duduk di bangku taman, memegang sebuah buku tulis. Ia terlihat asyik mencoret-coret sesuatu, mungkin menulis cerita seperti yang sering ia lakukan. Raka ragu untuk mendekatinya, tetapi akhirnya memberanikan diri.
"Nara?" panggilnya pelan.
Nara menoleh dan tersenyum cerah. "Raka? Tumben di sini. Biasanya kamu lebih suka tempat yang sepi, kan?"
Raka menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Iya, lagi pengen cari udara segar aja."
Mereka akhirnya duduk bersama di bangku taman itu. Obrolan mereka mengalir dengan mudah, mulai dari pelajaran sekolah hingga hal-hal kecil yang mereka sukai. Nara bercerita tentang mimpinya menjadi penulis dan bagaimana ia ingin membuat buku yang bisa menginspirasi banyak orang.
"Aku nggak tahu kenapa, tapi aku suka banget sama langit sore," kata Nara sambil memandang ke atas. "Warnanya selalu berubah-ubah, tapi tetap indah. Kayak kehidupan kita, kan?"
Raka tersenyum mendengar itu. "Kamu selalu punya cara untuk bikin sesuatu terdengar spesial."
"Mungkin karena aku suka melihat sisi positif dari semuanya," jawab Nara sambil tertawa kecil.
Percakapan mereka sore itu semakin membuat Raka yakin bahwa Nara adalah orang yang ingin ia lindungi dan dukung. Namun, ia masih bingung bagaimana cara mengungkapkan perasaannya tanpa merusak hubungan mereka yang sudah mulai dekat.
Saat mereka berbicara, angin sepoi-sepoi mengibarkan rambut Nara, membuatnya terlihat semakin menawan di mata Raka. "Raka, aku penasaran," kata Nara tiba-tiba, "menurut kamu, apa arti dari nama 'Langit Jingga'?"
Raka tercekat sejenak. Ia menatap Nara yang terlihat serius menunggu jawabannya. Dengan hati-hati, ia berkata, "Mungkin... itu seseorang yang ingin membawa kehangatan, seperti warna jingga di langit sore."
Nara tersenyum kecil, lalu berkata, "Aku rasa, 'Langit Jingga' adalah seseorang yang sangat tulus. Aku penasaran siapa dia."
Raka hanya tersenyum tipis, menyembunyikan perasaannya yang bergemuruh. Dalam hatinya, ia berharap suatu hari nanti bisa mengungkapkan bahwa dirinya adalah 'Langit Jingga' yang dimaksud Nara.
Chapter 6: Mimpi yang Sama, Ragu yang Berbeda
Hari-hari berikutnya, Nara mulai fokus pada sebuah lomba menulis yang akan diadakan di sekolah. Ia sangat bersemangat untuk ikut, tetapi di sisi lain, ia merasa ragu apakah ceritanya cukup bagus. Sementara itu, Raka memperhatikan Nara dari kejauhan, menyadari betapa pentingnya lomba itu baginya.
Raka memutuskan untuk membantu Nara dengan cara yang tidak langsung. Ia menulis surat berikutnya sebagai Langit Jingga, berisi kata-kata motivasi dan dukungan untuk Nara:
"Setiap mimpi besar dimulai dari langkah kecil. Jangan takut mencoba, karena setiap usaha yang tulus akan membawa hasil yang indah. Aku percaya, kamu punya cerita yang luar biasa untuk dibagikan kepada dunia."
Nara menerima surat itu dengan senyuman lebar. Ia merasa semakin yakin untuk mengikuti lomba. Namun, rasa penasarannya tentang identitas Langit Jingga semakin dalam. Ia mulai berpikir, apakah orang ini adalah seseorang yang ia kenal? Atau hanya sosok misterius yang ingin mendukungnya dari jauh?
Sementara itu, Raka masih bergelut dengan rasa ragu. Ia ingin mengungkapkan perasaannya secara langsung, tetapi ia juga takut jika itu akan mengubah hubungan mereka. Bagaimana jika Nara tahu bahwa Langit Jingga adalah dirinya? Akankah semuanya tetap sama?